PENALARAN DEDUKSI DAN INDUKSI
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.
Menurut Jujun Suriasumantri, Penalaran adalah suatu proses berfikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Sebagai suatu kegiatan berfikir penalaran memiliki ciri-ciri tertentu. Ciri pertama adalah proses berpikir logis, dimana berpikir logis diartikan sebagai kegiatan berpikir menurut pola tertentu atau dengan kata lain menurut logika tertentu. Ciri yang kedua adalah sifat analitik dari proses berpikirnya. Sifat analitik ini merupakan konsekuensi dari adanya suatu pola berpikir tertentu. Analisis pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan berpikir berdasarkan langkah-langkah tertentu.
Pengetahuan yang dipergunakan dalam penalaran pada dasarnya bersumber pada rasio atau fakta. Mereka yang berpendapat bahwa rasio adalah sumber kebenaran mengembangkan paham rasionalisme, sedangkan mereka yang menyatakan bahwa fakta yang tertangkap lewat pengalaman manusia merupakan sumber kebenaran mengembangkan paham empirisme.
Penalaran ilmiah pada hakikatnya merupakan gabungan dari penalaran deduktif dan induktif. Dimana lebih lanjut penalaran deduktif terkait dengan rasionalisme dan penalaran induktif dengan empirisme. Secara rasional ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan antara pengetahuan yang sesuai fakta dengan yang tidak. Karena itu sebelum teruji kebenarannya secara empiris semua penjelasan
rasional yang diajukan statusnya hanyalah bersifat sementara, Penjelasan sementara ini biasanya disebut hipotesis. Penalaran deduktif dan penalaran induktif diperlukan dalam proses pencarian pengetahuan yang benar.
A. Penalaran Deduksi
Deduksi berasal dari bahasa Inggris deduction yang berarti penarikan kesimpulan dari keadaan-keadaan yang umum, menemukan yang khusus dari yang umum, lawannya induksi (Poerwadarminta, 2006)
Deduksi adalah cara berpikir dimana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus. Silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. (Suriasumantri, 2005)
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus. (www.id.wikipedia.com).
Metode berpikir deduksi sifatnya pasti. Metode ini dimulai dengan diterimanya suatu premis mayor. Contoh: “Semua manusia akan mati” (premis mayor). Kemudian, anggap kita memiliki premis minor: “Socrates adalah manusia”. Karena Socrates adalah manusia, maka Socrates memiliki sifat-sifat yang dimiliki semua manusia. Oleh karena itu, secara deduktif dapat disimpulkan bahwa Socrates juga akan mati. Dapat juga dikatakan bahwa deduksi bersifat tertutup karena kesimpulan yang diambil tidak boleh ditarik dari luar premis mayor. Asalkan semua premisnya benar, maka kesimpulan yang diambil secara deduktif juga akan benar.
Penalaran Matematika termasuk ke dalam penalaran deuksi karena bersifat pasti. Matematika bukanlah ilmu yang didasari atas percobaan dan pengamatan sehingga membuatnya dibedakan dengan sains. Perhatikan saja, apakah kebenaran 1+1=2 adalah sesuatu yang kita peroleh melalui percobaan dan pengamatan? Tentu tidak. Kebenaran 1+1=2 merupakan sesuatu yang kita terima begitu saja. Kalau begitu, bagaimana sejumlah teori matematika yang pernah ada dapat
muncul? Bagaimana tarikan logika agar kita dapat menyimpulkan bahwa suatu teori itu benar secara matematis?
Secara singkat, dapat dikatakan bahwa penalaran matematika dimulai dari diterimanya kebenaran beberapa aksioma. Aksioma adalah suatu kebenaran yang dapat kita terima begitu saja (tanpa ada pembuktian apapun). Contoh: Aksioma bilangan bulat yang diusulkan oleh Guiseppe Peano (1858 - 1932). Aksioma tersebut secara tidak langsung menyatakan bahwa suatu bilangan bulat jika ditambahkan dengan 1 (satu), maka akan menghasilkan bilangan bulat pada urutan berikutnya. Contohnya, jika diambil angka “3″, maka jika angka tersebut ditambahkan dengan “1″, maka akan menghasilkan bilangan bulat berikutnya dari “3″, yaitu “4″.
Teorema matematika diturunkan dari satu atau irisan beberapa aksioma. Kebenaran teorema ini harus dapat dibuktikan berdasarkan hukum-hukum yang berlaku pada aksioma. Dengan kata lain, kesimpulan yang diambil pada pembuatan teorema tidak boleh keluar dari ruang lingkup aksioma yang berlaku.
Contoh teorema: Dua ditambah tiga sama dengan lima. Teorema ini dibuktikan (berdasarkan aksioma bilangan bulat oleh Peano) sebagai berikut: 2 + 3
<=> 2+2+1 (2 merupakan bilangan bulat sebelum 3)
<=> 2+1+1+1 (1 merupakan bilangan bulat sebelum 2)
<=> 3+1+1 (3 merupakan bilangan bulat setelah 2)
<=> 4+1 (4 merupakan bilangan bulat setelah 3)
<=> 5 (5 merupakan bilangan bulat setelah 4)
Kamis, 08 Oktober 2009
penalaran
PENALARAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF (Materi I)
Suatu penelitian pada hakekatnya dimulai dari hasrat keingintahuan manusia, merupakan anugerah Allah SWT, yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan maupun permasalahan-permasalahan yang memerlukan jawaban atau pemecahannya, sehingga akan diperoleh pengetahuan baru yang dianggap benar. Pengetahuan baru yang benar tersebut merupakan pengetahuan yang dapat diterima oleh akal sehat dan berdasarkan fakta empirik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pencarian pengetahuan yang benar harus berlangsung menurut prosedur atau kaedah hukum, yaitu berdasarkan logika. Sedangkan aplikasi dari logika dapat disebut dengan penalaran dan pengetahuan yang benar dapat disebut dengan pengetahuan ilmiah.
Untuk memperoleh pengetahuan ilmiah dapat digunakan dua jenis penalaran, yaitu Penalaran Deduktif dan Penalaran Induktif.
Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.
Penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi.
Kedua penalaran tersebut di atas (penalaran deduktif dan induktif), seolah-olah merupakan cara berpikir yang berbeda dan terpisah. Tetapi dalam prakteknya, antara berangkat dari teori atau berangkat dari fakta empirik merupakan lingkaran yang tidak terpisahkan. Kalau kita berbicara teori sebenarnya kita sedang mengandaikan fakta dan kalau berbicara fakta maka kita sedang mengandaikan teori (Heru Nugroho; 2001: 69-70). Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan dilaksanakan dalam suatu ujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada hukum-hukum logika.
Upaya menemukan kebenaran dengan cara memadukan penalaran deduktif dengan penalaran induktif tersebut melahirkan penalaran yang disebut dengan reflective thinking atau berpikir refleksi. Proses berpikir refleksi ini diperkenalkan oleh John Dewey (Burhan Bungis: 2005; 19-20), yaitu dengan langkah-langkah atau tahap-tahap sebagai berikut :
• The Felt Need, yaitu adanya suatu kebutuhan. Seorang merasakan adanya suatu kebutuhan yang menggoda perasaannya sehingga dia berusaha mengungkapkan kebutuhan tersebut.
• The Problem, yaitu menetapkan masalah. Kebutuhan yang dirasakan pada tahap the felt need di atas, selanjutnya diteruskan dengan merumuskan, menempatkan dan membatasi permasalahan atau kebutuhan tersebut, yaitu apa sebenarnya yang sedang dialaminya, bagaimana bentuknya serta bagaimana pemecahannya.
• The Hypothesis, yaitu menyusun hipotesis. Pengalaman-pengalaman seseorang berguna untuk mencoba melakukan pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Paling tidak percobaan untuk memecahkan masalah mulai dilakukan sesuai dengan pengalaman yang relevan. Namun pada tahap ini kemampuan seseorang hanya sampai pada jawaban sementara terhadap pemecahan masalah tersebut, karena itu ia hanya mampu berteori dan berhipotesis.
• Collection of Data as Avidance, yaitu merekam data untuk pembuktian. Tak cukup memecahkan masalah hanya dengan pengalaman atau dengan cara berteori menggunakan teori-teori, hukum-hukum yang ada. Permasalahan manusia dari waktu ke waktu telah berkembang dari sederhana menjadi sangat kompleks; kompleks gejala maupun penyebabnya. Karena itu pendekatan hipotesis dianggap tidak memadai, rasionalitas jawaban pada hipotesis mulai dipertanyakan. Masyarakat kemudian tidak puas dengan pengalaman-pengalaman orang lain, juga tidak puas dengan hukum-hukum dan teori-teori yang juga dibuat orang sebelumnya. Salah satu alternatif adalah membuktikan sendiri hipotesis yang dibuatnya itu. Ini berarti orang harus merekam data di lapangan dan mengujinya sendiri. Kemudian data-data itu dihubung-hubungkan satu dengan lainnya untuk menemukan kaitan satu sama lain, kegiatan ini disebut dengan analisis. Kegiatan analisis tersebut dilengkapi dengan kesimpulan yang mendukung atau menolak hipotesis, yaitu hipotesis yang dirumuskan tadi.
• Concluding Belief, yaitu membuat kesimpulan yang diyakini kebenarannya. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan pada tahap sebelumnya, maka dibuatlah sebuah kesimpulan, dimana kesimpulan itu diyakini mengandung kebenaran.
• General Value of The Conclusion, yaitu memformulasikan kesimpulan secara umum. Konstruksi dan isi kesimpulan pengujian hipotesis di atas, tidak saja berwujud teori, konsep dan metode yang hanya berlaku pada kasus tertentu – maksudnya kasus yang telah diuji hipotesisnya – tetapi juga kesimpulan dapat berlaku umum terhadap kasus yang lain di tempat lain dengan kemiripan-kemiripan tertentu dengan kasus yang telah dibuktikan tersebut untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang.
Proses maupun hasil berpikir refleksi di atas, kemudian menjadi popular pada berbagai proses ilmiah atau proses ilmu pengetahuan. Kemudian, tahapan-tahapan dalam berpikir refleksi ini dipatuhi secara ketat dan menjadi persyaratan dalam menentukan bobot ilmiah dari proses tersebut. Apabila salah satu dari langkah-langkah itu dilupakan atau dengan sengaja diabaikan, maka sebesar itu pula nilai ilmiah telah dilupakan dalam proses berpikir ini.
http://ssantoso.blogspot.com/2008/08/penalaran-induktif-dan-deduktif-materi.html
Brilyanhati: contoh deduktif, jika meneliti konsumsi rumah tangga untuk minyak, maka sebelum turun ke lapangan yang dipersiapkan adalah teori konsumsi, permintaan dan penawaran barang, dll; pertanyaan yang akan diajukan sudah jeas dan hampir baku, sampelnya jelas, dll artinya sudah disiapkan semua tinggal cari data.
Kalau induktif, bisa jadi langsung ke lapangan untuk wawancara secara mengalir (contoh penelitian tentang konflik pilkada di desa X)artinya tidak perlu pakai kuesioner tapi tetapi menggunakan interview guide dan biasanya jenis pertanyaan terbuka dan di lapangan bisa berkembang.
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).
Penalaran
Saturday, 16 May 2009 11:08 Administrator
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.
Metode dalam menalar
Ada dua jenis metode dalam menalar yaitu induktif dan deduktif.
induktif
• Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum.
• Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti.
• Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.
Metode deduktif
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
Bagian ini membutuhkan pengembangan
Konsep dan simbol dalam penalaran
Penalaran juga merupakan aktifitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen.
Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.
Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.
Syarat-syarat kebenaran dalam penalaran
Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
• Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
• Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.
http://www.penalaran-unm.org/index.php/artikel-nalar/wacana/173.html?task=view
Suatu penelitian pada hakekatnya dimulai dari hasrat keingintahuan manusia, merupakan anugerah Allah SWT, yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan maupun permasalahan-permasalahan yang memerlukan jawaban atau pemecahannya, sehingga akan diperoleh pengetahuan baru yang dianggap benar. Pengetahuan baru yang benar tersebut merupakan pengetahuan yang dapat diterima oleh akal sehat dan berdasarkan fakta empirik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pencarian pengetahuan yang benar harus berlangsung menurut prosedur atau kaedah hukum, yaitu berdasarkan logika. Sedangkan aplikasi dari logika dapat disebut dengan penalaran dan pengetahuan yang benar dapat disebut dengan pengetahuan ilmiah.
Untuk memperoleh pengetahuan ilmiah dapat digunakan dua jenis penalaran, yaitu Penalaran Deduktif dan Penalaran Induktif.
Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.
Penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi.
Kedua penalaran tersebut di atas (penalaran deduktif dan induktif), seolah-olah merupakan cara berpikir yang berbeda dan terpisah. Tetapi dalam prakteknya, antara berangkat dari teori atau berangkat dari fakta empirik merupakan lingkaran yang tidak terpisahkan. Kalau kita berbicara teori sebenarnya kita sedang mengandaikan fakta dan kalau berbicara fakta maka kita sedang mengandaikan teori (Heru Nugroho; 2001: 69-70). Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan dilaksanakan dalam suatu ujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada hukum-hukum logika.
Upaya menemukan kebenaran dengan cara memadukan penalaran deduktif dengan penalaran induktif tersebut melahirkan penalaran yang disebut dengan reflective thinking atau berpikir refleksi. Proses berpikir refleksi ini diperkenalkan oleh John Dewey (Burhan Bungis: 2005; 19-20), yaitu dengan langkah-langkah atau tahap-tahap sebagai berikut :
• The Felt Need, yaitu adanya suatu kebutuhan. Seorang merasakan adanya suatu kebutuhan yang menggoda perasaannya sehingga dia berusaha mengungkapkan kebutuhan tersebut.
• The Problem, yaitu menetapkan masalah. Kebutuhan yang dirasakan pada tahap the felt need di atas, selanjutnya diteruskan dengan merumuskan, menempatkan dan membatasi permasalahan atau kebutuhan tersebut, yaitu apa sebenarnya yang sedang dialaminya, bagaimana bentuknya serta bagaimana pemecahannya.
• The Hypothesis, yaitu menyusun hipotesis. Pengalaman-pengalaman seseorang berguna untuk mencoba melakukan pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Paling tidak percobaan untuk memecahkan masalah mulai dilakukan sesuai dengan pengalaman yang relevan. Namun pada tahap ini kemampuan seseorang hanya sampai pada jawaban sementara terhadap pemecahan masalah tersebut, karena itu ia hanya mampu berteori dan berhipotesis.
• Collection of Data as Avidance, yaitu merekam data untuk pembuktian. Tak cukup memecahkan masalah hanya dengan pengalaman atau dengan cara berteori menggunakan teori-teori, hukum-hukum yang ada. Permasalahan manusia dari waktu ke waktu telah berkembang dari sederhana menjadi sangat kompleks; kompleks gejala maupun penyebabnya. Karena itu pendekatan hipotesis dianggap tidak memadai, rasionalitas jawaban pada hipotesis mulai dipertanyakan. Masyarakat kemudian tidak puas dengan pengalaman-pengalaman orang lain, juga tidak puas dengan hukum-hukum dan teori-teori yang juga dibuat orang sebelumnya. Salah satu alternatif adalah membuktikan sendiri hipotesis yang dibuatnya itu. Ini berarti orang harus merekam data di lapangan dan mengujinya sendiri. Kemudian data-data itu dihubung-hubungkan satu dengan lainnya untuk menemukan kaitan satu sama lain, kegiatan ini disebut dengan analisis. Kegiatan analisis tersebut dilengkapi dengan kesimpulan yang mendukung atau menolak hipotesis, yaitu hipotesis yang dirumuskan tadi.
• Concluding Belief, yaitu membuat kesimpulan yang diyakini kebenarannya. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan pada tahap sebelumnya, maka dibuatlah sebuah kesimpulan, dimana kesimpulan itu diyakini mengandung kebenaran.
• General Value of The Conclusion, yaitu memformulasikan kesimpulan secara umum. Konstruksi dan isi kesimpulan pengujian hipotesis di atas, tidak saja berwujud teori, konsep dan metode yang hanya berlaku pada kasus tertentu – maksudnya kasus yang telah diuji hipotesisnya – tetapi juga kesimpulan dapat berlaku umum terhadap kasus yang lain di tempat lain dengan kemiripan-kemiripan tertentu dengan kasus yang telah dibuktikan tersebut untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang.
Proses maupun hasil berpikir refleksi di atas, kemudian menjadi popular pada berbagai proses ilmiah atau proses ilmu pengetahuan. Kemudian, tahapan-tahapan dalam berpikir refleksi ini dipatuhi secara ketat dan menjadi persyaratan dalam menentukan bobot ilmiah dari proses tersebut. Apabila salah satu dari langkah-langkah itu dilupakan atau dengan sengaja diabaikan, maka sebesar itu pula nilai ilmiah telah dilupakan dalam proses berpikir ini.
http://ssantoso.blogspot.com/2008/08/penalaran-induktif-dan-deduktif-materi.html
Brilyanhati: contoh deduktif, jika meneliti konsumsi rumah tangga untuk minyak, maka sebelum turun ke lapangan yang dipersiapkan adalah teori konsumsi, permintaan dan penawaran barang, dll; pertanyaan yang akan diajukan sudah jeas dan hampir baku, sampelnya jelas, dll artinya sudah disiapkan semua tinggal cari data.
Kalau induktif, bisa jadi langsung ke lapangan untuk wawancara secara mengalir (contoh penelitian tentang konflik pilkada di desa X)artinya tidak perlu pakai kuesioner tapi tetapi menggunakan interview guide dan biasanya jenis pertanyaan terbuka dan di lapangan bisa berkembang.
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).
Penalaran
Saturday, 16 May 2009 11:08 Administrator
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.
Metode dalam menalar
Ada dua jenis metode dalam menalar yaitu induktif dan deduktif.
induktif
• Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum.
• Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti.
• Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.
Metode deduktif
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
Bagian ini membutuhkan pengembangan
Konsep dan simbol dalam penalaran
Penalaran juga merupakan aktifitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen.
Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.
Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.
Syarat-syarat kebenaran dalam penalaran
Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
• Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
• Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.
http://www.penalaran-unm.org/index.php/artikel-nalar/wacana/173.html?task=view
Selasa, 06 Oktober 2009
TEORI BELAJAR BAHASA
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antarbagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan. ( Moeliono, 1988 : 32 ).
Sedangkan kontrastif diartikan sebagai perbedaan atau pertentangan antara dua hal. Perbedaan inilah yang menarik untuk dibicarakan, diteliti. dan dipahami.
Secara khusus analisis kontrastif atau lebih populer disingkat anakon adalah kegiatan memperbandingkan struktur bahasa ibu atau bahasa pertama (Bl) dengan bahasa yang diperoleh atau dipelajari sesudah bahasa ibu yang lebih dikenal dengan bahasa kedua (B2) untuk mengidentifikasi perbedaan kedua bahasa tersebut.
Dalam makalah ini penyusun akan sedikit banyak memaparkan tentang pemerolehan bahasa dan analisis kontrastif, diantaranya pengertian analisis kontrastif, aspek psikologis dan linguistik analisis analisis kontrastif, dan kritik terhadap hipotesisi analisis kontrastif.
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa tercurah kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya penyusunan makalah tentang “ Pemerolehan Bahasa dan Analisis kontrastif “ dalam rangka pencapaian materi Mata Kuliah Teori Belajar Bahasa di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Jurusan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ini dapat diselesaikan tepat waktu.
Terima kasih penyusun ucapkan kepada dosen mata kuliah Teori Belajar Bahasa dan rekan – rekan yang sudah senantiasa menyusun pikiran, tenaga, serta materi sehingga terselesaikannya makalah ini.
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk menambah pengetahuan kita tentang mata kuliah Teori Belajar Bahasa. Walaupun dalam penyusunan makalah ini diusahakan secara optimal dan sebaik mungkin, namun penyusun yakin bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, masih memiliki kesalahan dan kekurangan dalam penyusunan makalah ini.
Mudah-mudahan setelah makalah ini tersusun, dapat dimanfaatkan dan berguna bagi kita semua. Kritik dan saran yang membangun sangat penyusun harapkan untuk perbaikan makalah ini.
Bandar Lampung, Oktober 2009
Penyusun
PEMEROLEHAN BAHASA DAN ANALISIS KONTRASTIF
( Makalah Teori Belajar Bahasa )
Oleh :
DESTIANA
IKA PUSPITA APRIANI NPM
MALIDA DEWI
MOHAMMAD RIDWAN NPM
NELISA PUTRI UTAMI
NENENG SURYANI
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2009
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antarbagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan. ( Moeliono, 1988 : 32 ).
Sedangkan kontrastif diartikan sebagai perbedaan atau pertentangan antara dua hal. Perbedaan inilah yang menarik untuk dibicarakan, diteliti. dan dipahami.
Secara khusus analisis kontrastif atau lebih populer disingkat anakon adalah kegiatan memperbandingkan struktur bahasa ibu atau bahasa pertama (Bl) dengan bahasa yang diperoleh atau dipelajari sesudah bahasa ibu yang lebih dikenal dengan bahasa kedua (B2) untuk mengidentifikasi perbedaan kedua bahasa tersebut.
Dalam makalah ini penyusun akan sedikit banyak memaparkan tentang pemerolehan bahasa dan analisis kontrastif, diantaranya pengertian analisis kontrastif, aspek psikologis dan linguistik analisis analisis kontrastif, dan kritik terhadap hipotesisi analisis kontrastif.
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa tercurah kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya penyusunan makalah tentang “ Pemerolehan Bahasa dan Analisis kontrastif “ dalam rangka pencapaian materi Mata Kuliah Teori Belajar Bahasa di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Jurusan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ini dapat diselesaikan tepat waktu.
Terima kasih penyusun ucapkan kepada dosen mata kuliah Teori Belajar Bahasa dan rekan – rekan yang sudah senantiasa menyusun pikiran, tenaga, serta materi sehingga terselesaikannya makalah ini.
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk menambah pengetahuan kita tentang mata kuliah Teori Belajar Bahasa. Walaupun dalam penyusunan makalah ini diusahakan secara optimal dan sebaik mungkin, namun penyusun yakin bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, masih memiliki kesalahan dan kekurangan dalam penyusunan makalah ini.
Mudah-mudahan setelah makalah ini tersusun, dapat dimanfaatkan dan berguna bagi kita semua. Kritik dan saran yang membangun sangat penyusun harapkan untuk perbaikan makalah ini.
Bandar Lampung, Oktober 2009
Penyusun
PEMEROLEHAN BAHASA DAN ANALISIS KONTRASTIF
( Makalah Teori Belajar Bahasa )
Oleh :
DESTIANA
IKA PUSPITA APRIANI NPM
MALIDA DEWI
MOHAMMAD RIDWAN NPM
NELISA PUTRI UTAMI
NENENG SURYANI
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2009
Selasa, 12 Mei 2009
fff
LAMPIRAN
Beberapa komentar mengenai pencalonan indonesia menjadi tuan rumah piala dunia 2018/2022
http://forum.fansbola.com/viewtopic.php?f=28&t=205&start=180&st=0&sk=t&sd=a&view=print
oleh wetwet
Tuan rumah Piala Dunia,
waduh..lagi2 PSSI bikin sensasi heboh
cita2 yg indah, optimisme yg patut dihargai..tapi sebelumnya, kapan PSSI dan kompetisi kita akan dibenahi sistem organisasinya?
oleh The_Exe
yah, peluang memang tetap ada, setidaknya memiliki jumlah penduduk terbesar didunia akan menjadi penilaian tersendiri bagi FIFA meski berat karena jika mengandalkan pengalaman menyelenggarakan piala asia (itupun msih keroyokan dgn 4 negara) belumlah bisa dijadikan patokan bhw kita bisa menyelenggarakan ajang sebesar piala dunia, kompetisi aj msih kacau, ngakunya sdh profesional tp msih ada klub yg mengandalkan APBD, belum lagi FIFA menuntut standar tertinggi untuk setiap aspek penyelenggaraan
http://spektrumku.wordpress.com/2009/02/16/indonesia-mengejar-tuan-rumah-piala-dunia-fifa-2022-mimpi-indah-yang-bakal-jadi-kenyataan/
• Mmm..dibanding dana yang besar digunakan untuk bangun stadion bertaraf internasional dan tetek bengek lainnya mending dipake untuk memejukan persepakbolaan nasional
Aria Turns dibahas juga di dalam Senin, 16 Februari 2009 pada 8:38 am | Balas
• keinginan menjadi tuan rumah
Piala Dunia 2020 itu patut
diacungi jempol….
tapi, saya yakin petinggi
FIFA dan anggota FIFA
lainnya pasti belum akan
merestui Indonesia sebagai
tuan rumah. Soalnya prestasi
sepakbola Indonesia, baru
sebatas hebat di bidang
keonaran melulu…
btw, sekali lagi…apapun
motivasinya keinginan PSSI
menawarkan diri jadi tuanrumah
patut diapresiasi dan
merupakan langkah inovatif
yg bakal bnyk sisi positifnya
menaikkan gengsi Indonesia
di mata dunia internasional
mikekono dibahas juga di dalam Senin, 16 Februari 2009 pada 10:40 am | Balas
Mengurusi kompetisi domestik bertahun-tahun saja gak becus, kok mau nggelar Piala Dunia. IMO sih layak diperjuangkan, toh FIFA yang memutuskan kelayakannya nanti. Saya cuma kurang sreg pada rencana penggelarannya yang rasanya tidak merata. Dari 13 stadion yang diajukan jadi arena; 7 ada di Jawa; dan yang paling timur cuma di Makassar. Kurang “Indonesia”…
jensen99 dibahas juga di dalam Senin, 16 Februari 2009 pada 11:52 am | Bala
• mending kalo udah bisa ikutan piala dunia, baru ngajuin jadi tuan rumah…
khofia dibahas juga di dalam Senin, 16 Februari 2009 pada 8:46 pm | Balas
• pemerintah tuh mau nya apa cih lah wong rakyatnya aja masih banyak yang kaga bisa beli beras nich malah mo bikin stadion yang banyak menguras dana,paling juga nantinya dananya pada masuk rekening tikus busuknya pemerintah
fens barunya kang yari ga mo pikir panjang langsung ngefans aja boleh kan dibahas juga di dalam Senin, 16 Februari 2009 pada 11:24 pm | Balas
• saya berani taruhan itu gak bakalan jadi…
PSSI cuma cari sensasi untuk mencari simpati masyarakat terkait kasus ketua umumnya….
Lagian gak mudah jadi tuan rumah piala dunia, fifa akan melihat dari banyak aspek untuk menyetujuinya..
junjung dibahas juga di dalam Selasa, 17 Februari 2009 pada 1:00 am | Balas
@Aria Turns
Mungkin PSSI ingin menangkat namanya lewat penyelenggaraan piala dunia karena menangkat namanya lewat prestasi yang juga sudah menelan biaya yang banyak selama ini tidak berhasil dan malah bikin ‘frustasi’. Huehehe……
@mantan kyai
PSSI mabuk PEPSI ya?? Entah berapa galon pepsi yang diminum sampai mabok gitu…
@mikekono
Memang betul sih, sebagai bangsa yang besar memang seharusnya kita jangan mengecilkan kemampuan bangsa sendiri. Namun begitu tentu hal tersebut juga harus diimbangi dengan program2 pengembangan persepakbolaan yang nyata, jelas dan terarah termasuk pengembangan2 prasarananya…..
@arifudin
Mari kita bangun dari mimpi…!! (maksudnya bangun ini, mimpinya dibuat kenyataan atau malah harus melupakan mimpi ya?? Hehehe….)
@junjung
Lah… memang bukannya begitu sifat bangsa Indonesia?? Yang penting ngetop dulu. Lihat aja di blogsfer kita, yang penting blog2 ramai dan populer (serta cari sensasi) dulu, masalah isi dan kualitas?? Itu sih nomer sejuta, bukan begitu?? Hehehe…
• Kalo lewat kompetisi kan susah untuk nembus quota Asia untuk piala dunia. Nah jalan pintas agar bisa lolos ke piala dunia adalah jadi tuan rumah. Nurdin bilang brasil, argentina yang scr ekonomi di bawah kita, bs jd tuan rumah. Lha dia lupa peringkat dunia kesebelasan mrk brp, kita brp?
waw dibahas juga di dalam Selasa, 17 Februari 2009 pada 1:33 pm | Balas
azizi
ah...
gila
ga mungkin kalle...
http://fans.bolanews.com/c/archive/index.php?t-2499.html
Mirjalovic
29 January 2009, 09:08
ibarangkali indonesia bisa sih
cuma idiot yang kirim lamaran tersebut,tapi gak punya kapasitas
n gw rasa,,PSSI emank rada2,tapi gak seidiot itulah
liat aja deh,,pssi penuh org eksentrik(klo kgk mau dibilang gila),,n kadang2 org seperti itu bisa dapat apa yang mereka inginkan
wong napi aja bisa jadi ketum http://kaskus.us/images/smilies/ngacir.gif
hitam-biru
29 January 2009, 20:06
Afsel aja yg secara ekonomi gak jauh beda dengan Indonesia (cuma berjarak 10 langkah di depan.. :D ) bisa ditunjuk jadi tuan rumah Piala Dunia 2010, Indonesia yg sudah membuktikan bisa jadi tuan rumah yg baik di edisi Piala Asia terakhir harusnya juga gak mau kalah donk.
tp yah.. jangan berharap terlalu tinggi lah, semakin tinggi angan2 kita melayang semakin keras jatuhnya nanti. berusaha aja diwujudkan step-by-step
Ann_at_Trigoria
30 January 2009, 13:10
haduhhh baru liat judul topiknya udah pusing duluan, hehehe...:mama:
Tuan Rumah PD?.... PD yang kapan?.... ahahahaaaa.... ;));))
ribet kalo di Indonesia kayaknya, secara kepulauan, hohohoho...
tapi seru juga tuh kalo benerannn, pertandingannya di tiap pulau di tiap kota yang punya lapangan bertaraf internasional, emang ada yang stadionnyahh?, ngebayangin lapangan di Bogor di pake buat PD, ga kebayanggg dahhh, Indonesia rakyatnya buanyakkkkk, bakal kayakkk semuutt, kasian yang maen bolanyahhh hihihihi..........:cape:
tapiiiiiiiiiiiii................ untuk waktu 50 tahun ke depan kayaknya ga mungkin dehhh... bikin monorail ajah kaga jadi2....
stadion yang bagus aja dikiiittt (yang gw tau GBK doang
Beberapa komentar mengenai pencalonan indonesia menjadi tuan rumah piala dunia 2018/2022
http://forum.fansbola.com/viewtopic.php?f=28&t=205&start=180&st=0&sk=t&sd=a&view=print
oleh wetwet
Tuan rumah Piala Dunia,
waduh..lagi2 PSSI bikin sensasi heboh
cita2 yg indah, optimisme yg patut dihargai..tapi sebelumnya, kapan PSSI dan kompetisi kita akan dibenahi sistem organisasinya?
oleh The_Exe
yah, peluang memang tetap ada, setidaknya memiliki jumlah penduduk terbesar didunia akan menjadi penilaian tersendiri bagi FIFA meski berat karena jika mengandalkan pengalaman menyelenggarakan piala asia (itupun msih keroyokan dgn 4 negara) belumlah bisa dijadikan patokan bhw kita bisa menyelenggarakan ajang sebesar piala dunia, kompetisi aj msih kacau, ngakunya sdh profesional tp msih ada klub yg mengandalkan APBD, belum lagi FIFA menuntut standar tertinggi untuk setiap aspek penyelenggaraan
http://spektrumku.wordpress.com/2009/02/16/indonesia-mengejar-tuan-rumah-piala-dunia-fifa-2022-mimpi-indah-yang-bakal-jadi-kenyataan/
• Mmm..dibanding dana yang besar digunakan untuk bangun stadion bertaraf internasional dan tetek bengek lainnya mending dipake untuk memejukan persepakbolaan nasional
Aria Turns dibahas juga di dalam Senin, 16 Februari 2009 pada 8:38 am | Balas
• keinginan menjadi tuan rumah
Piala Dunia 2020 itu patut
diacungi jempol….
tapi, saya yakin petinggi
FIFA dan anggota FIFA
lainnya pasti belum akan
merestui Indonesia sebagai
tuan rumah. Soalnya prestasi
sepakbola Indonesia, baru
sebatas hebat di bidang
keonaran melulu…
btw, sekali lagi…apapun
motivasinya keinginan PSSI
menawarkan diri jadi tuanrumah
patut diapresiasi dan
merupakan langkah inovatif
yg bakal bnyk sisi positifnya
menaikkan gengsi Indonesia
di mata dunia internasional
mikekono dibahas juga di dalam Senin, 16 Februari 2009 pada 10:40 am | Balas
Mengurusi kompetisi domestik bertahun-tahun saja gak becus, kok mau nggelar Piala Dunia. IMO sih layak diperjuangkan, toh FIFA yang memutuskan kelayakannya nanti. Saya cuma kurang sreg pada rencana penggelarannya yang rasanya tidak merata. Dari 13 stadion yang diajukan jadi arena; 7 ada di Jawa; dan yang paling timur cuma di Makassar. Kurang “Indonesia”…
jensen99 dibahas juga di dalam Senin, 16 Februari 2009 pada 11:52 am | Bala
• mending kalo udah bisa ikutan piala dunia, baru ngajuin jadi tuan rumah…
khofia dibahas juga di dalam Senin, 16 Februari 2009 pada 8:46 pm | Balas
• pemerintah tuh mau nya apa cih lah wong rakyatnya aja masih banyak yang kaga bisa beli beras nich malah mo bikin stadion yang banyak menguras dana,paling juga nantinya dananya pada masuk rekening tikus busuknya pemerintah
fens barunya kang yari ga mo pikir panjang langsung ngefans aja boleh kan dibahas juga di dalam Senin, 16 Februari 2009 pada 11:24 pm | Balas
• saya berani taruhan itu gak bakalan jadi…
PSSI cuma cari sensasi untuk mencari simpati masyarakat terkait kasus ketua umumnya….
Lagian gak mudah jadi tuan rumah piala dunia, fifa akan melihat dari banyak aspek untuk menyetujuinya..
junjung dibahas juga di dalam Selasa, 17 Februari 2009 pada 1:00 am | Balas
@Aria Turns
Mungkin PSSI ingin menangkat namanya lewat penyelenggaraan piala dunia karena menangkat namanya lewat prestasi yang juga sudah menelan biaya yang banyak selama ini tidak berhasil dan malah bikin ‘frustasi’. Huehehe……
@mantan kyai
PSSI mabuk PEPSI ya?? Entah berapa galon pepsi yang diminum sampai mabok gitu…
@mikekono
Memang betul sih, sebagai bangsa yang besar memang seharusnya kita jangan mengecilkan kemampuan bangsa sendiri. Namun begitu tentu hal tersebut juga harus diimbangi dengan program2 pengembangan persepakbolaan yang nyata, jelas dan terarah termasuk pengembangan2 prasarananya…..
@arifudin
Mari kita bangun dari mimpi…!! (maksudnya bangun ini, mimpinya dibuat kenyataan atau malah harus melupakan mimpi ya?? Hehehe….)
@junjung
Lah… memang bukannya begitu sifat bangsa Indonesia?? Yang penting ngetop dulu. Lihat aja di blogsfer kita, yang penting blog2 ramai dan populer (serta cari sensasi) dulu, masalah isi dan kualitas?? Itu sih nomer sejuta, bukan begitu?? Hehehe…
• Kalo lewat kompetisi kan susah untuk nembus quota Asia untuk piala dunia. Nah jalan pintas agar bisa lolos ke piala dunia adalah jadi tuan rumah. Nurdin bilang brasil, argentina yang scr ekonomi di bawah kita, bs jd tuan rumah. Lha dia lupa peringkat dunia kesebelasan mrk brp, kita brp?
waw dibahas juga di dalam Selasa, 17 Februari 2009 pada 1:33 pm | Balas
azizi
ah...
gila
ga mungkin kalle...
http://fans.bolanews.com/c/archive/index.php?t-2499.html
Mirjalovic
29 January 2009, 09:08
ibarangkali indonesia bisa sih
cuma idiot yang kirim lamaran tersebut,tapi gak punya kapasitas
n gw rasa,,PSSI emank rada2,tapi gak seidiot itulah
liat aja deh,,pssi penuh org eksentrik(klo kgk mau dibilang gila),,n kadang2 org seperti itu bisa dapat apa yang mereka inginkan
wong napi aja bisa jadi ketum http://kaskus.us/images/smilies/ngacir.gif
hitam-biru
29 January 2009, 20:06
Afsel aja yg secara ekonomi gak jauh beda dengan Indonesia (cuma berjarak 10 langkah di depan.. :D ) bisa ditunjuk jadi tuan rumah Piala Dunia 2010, Indonesia yg sudah membuktikan bisa jadi tuan rumah yg baik di edisi Piala Asia terakhir harusnya juga gak mau kalah donk.
tp yah.. jangan berharap terlalu tinggi lah, semakin tinggi angan2 kita melayang semakin keras jatuhnya nanti. berusaha aja diwujudkan step-by-step
Ann_at_Trigoria
30 January 2009, 13:10
haduhhh baru liat judul topiknya udah pusing duluan, hehehe...:mama:
Tuan Rumah PD?.... PD yang kapan?.... ahahahaaaa.... ;));))
ribet kalo di Indonesia kayaknya, secara kepulauan, hohohoho...
tapi seru juga tuh kalo benerannn, pertandingannya di tiap pulau di tiap kota yang punya lapangan bertaraf internasional, emang ada yang stadionnyahh?, ngebayangin lapangan di Bogor di pake buat PD, ga kebayanggg dahhh, Indonesia rakyatnya buanyakkkkk, bakal kayakkk semuutt, kasian yang maen bolanyahhh hihihihi..........:cape:
tapiiiiiiiiiiiii................ untuk waktu 50 tahun ke depan kayaknya ga mungkin dehhh... bikin monorail ajah kaga jadi2....
stadion yang bagus aja dikiiittt (yang gw tau GBK doang
Senin, 04 Mei 2009
DALE-CHALL
Formula Keterbacaan Dale-Chall
1.Pilih teks yang panjangnya berkisar 100-150 kata.
Beberapa tahun yang lalu orang menemukan kenyataan bahwa jika air bias disaring lewat lapisan pasir, maka banyak bahan kotoran dan sebahagian besar bakteri dapat dihindari. Jadi, banyak macam metode yang menggunakan pasir sebagai saringan yang diterapkan orang, termasuk di dalamnya metode yang memaksa air itu mengalir dengan bantuan tenaga mesin menurut kecepatan yang luar biasa hebatnya.
Metode yang paling lazim digunakan orang di dalam cara memurnikan air ialah dengan jalan klorisasi atau mencampur air dengan zat klor. Cara ini adalah metode yang paling murah, cepat dan efektif. Dari dua sampai delapan pon bahan klor kita sudah cukup mempunyai persediaan bahan campuran bagi sejuta gallon air. Jumlah klor ini pun sudah cukup mantap untuk memusnahkan sejumlah kuman-kuman yang berbahaya, yang kemungkinan besar berada di dalam air.
2.Hitung panjang rata-rata kalimat dengan membagi Jumlah kata = ( ) = ( )
Jumlah kalimat ( )
3.Hitung jumlah kata-kata sulit, yaitu kata-kata yang mempunyai 3 suku kata/lebih.
Jumlah kata-kata sulit (…….)
4.Hitung persentase kata-kata sulit dgn cara Jml kata-kata sulit = ( ) = ( )
Total kata ( )
5. Masukkan ke dalam rumus
= 0,1579 x persentase kata-kata sulit + 0.0496 x panjang rata-rata kalimat + 3,6365
= 0,1579 x ( ) + 0,0496 x ( ) = ( )
6.Gunakan table
Gunakan tabel berikut ini untuk mendapatkan Disesuaikan Nilai:
RAW SCORE Skor RAW ADJUSTED SCORE Skor disesuaikan
4.9 and Below Di bawah 4,9 dan Grade 4 and Below Di bawah kelas 4 dan
5.0 to 5.9 5.0 ke 5.9 Grades 5 - 6 Kelas 5 - 6
6.0 to 6.9 6.0 ke 6.9 Grades 7 - 8 Nilai 7-8
7.0 to 7.9 7.0 ke 7.9 Grades 9 - 10 Nilai 9 - 10
8.0 to 8.9 8.0 ke 8.9 Grades 11 - 12 Nilai 11 - 12
9.0 to 9.9 9.0 ke 9.9 Grades 13 - 15 (College) Nilai 13 - 15 (College)
10 and Above Di atas 10 dan Grades 16 and Above (College Graduate) Di atas 16 dan nilai (Graduate College)
1.Pilih teks yang panjangnya berkisar 100-150 kata.
Beberapa tahun yang lalu orang menemukan kenyataan bahwa jika air bias disaring lewat lapisan pasir, maka banyak bahan kotoran dan sebahagian besar bakteri dapat dihindari. Jadi, banyak macam metode yang menggunakan pasir sebagai saringan yang diterapkan orang, termasuk di dalamnya metode yang memaksa air itu mengalir dengan bantuan tenaga mesin menurut kecepatan yang luar biasa hebatnya.
Metode yang paling lazim digunakan orang di dalam cara memurnikan air ialah dengan jalan klorisasi atau mencampur air dengan zat klor. Cara ini adalah metode yang paling murah, cepat dan efektif. Dari dua sampai delapan pon bahan klor kita sudah cukup mempunyai persediaan bahan campuran bagi sejuta gallon air. Jumlah klor ini pun sudah cukup mantap untuk memusnahkan sejumlah kuman-kuman yang berbahaya, yang kemungkinan besar berada di dalam air.
2.Hitung panjang rata-rata kalimat dengan membagi Jumlah kata = ( ) = ( )
Jumlah kalimat ( )
3.Hitung jumlah kata-kata sulit, yaitu kata-kata yang mempunyai 3 suku kata/lebih.
Jumlah kata-kata sulit (…….)
4.Hitung persentase kata-kata sulit dgn cara Jml kata-kata sulit = ( ) = ( )
Total kata ( )
5. Masukkan ke dalam rumus
= 0,1579 x persentase kata-kata sulit + 0.0496 x panjang rata-rata kalimat + 3,6365
= 0,1579 x ( ) + 0,0496 x ( ) = ( )
6.Gunakan table
Gunakan tabel berikut ini untuk mendapatkan Disesuaikan Nilai:
RAW SCORE Skor RAW ADJUSTED SCORE Skor disesuaikan
4.9 and Below Di bawah 4,9 dan Grade 4 and Below Di bawah kelas 4 dan
5.0 to 5.9 5.0 ke 5.9 Grades 5 - 6 Kelas 5 - 6
6.0 to 6.9 6.0 ke 6.9 Grades 7 - 8 Nilai 7-8
7.0 to 7.9 7.0 ke 7.9 Grades 9 - 10 Nilai 9 - 10
8.0 to 8.9 8.0 ke 8.9 Grades 11 - 12 Nilai 11 - 12
9.0 to 9.9 9.0 ke 9.9 Grades 13 - 15 (College) Nilai 13 - 15 (College)
10 and Above Di atas 10 dan Grades 16 and Above (College Graduate) Di atas 16 dan nilai (Graduate College)
GUNNING FOG
FORMULA KETERBACAAN ROBERT-GUNNING
Langkah-langkah mengetahui tingkat keterbacaan
1.Ambil sebuah tulisan/wacana
Ada yang berbeda di malam tanggal 10 november di Surabaya 2008 di area komplek pemakaman umum Ngagel Surabaya.
Meski jam sudah menunjuk angka 12, suasana yang biasanya sepi sangat berbeda pada saat itu. Beberapa atribut band seperti Slank, Komunitas Rock NO WARS, dan Iwan Fals pun kerap terlihat.
2.Hitunglah jumlah kalimat yang ada pada wacana. = (………)
3.Hitunglah panjang kalimat dengan cara menghitung jumlah kata per kalimat.
Kalimat pertama=(….), kedua=(….), ketiga=(……), keempat=(….), kelima=(….), keenam=(….) dst.
4.Hitung jumlah rata-rata kata per kalimat. Total kata = (…….) = (……)
jml kalimat (…….)
5.Hitung jumlah kata-kata sulit, yaitu kata-kata yang terdiri dari 3 suku kata atau lebih, teapi tidak untuk kata ulang. = (……..)
6.Hitung persentase kata-kata sulit . Jml kata-kata sulit = (…….) = (…….)
Total kata (…….)
7.Jumlahkan poin ke-4 dan ke-6. lalu kalikan dengan 0,4. maka hasilnya disebut Fog Index. (……)+(……)x0,4 = (…………….)
Rentang Fog Index adalah dari 5-17. Fog Index di atas 7 dianggap oleg Gunning sebagai titik rawan. Tulisan (wacana) dengan Fog Index di atas 7 tergolong sulit untuk dibaca dan dipahami maksudnya. Wacana dengan Fog Index di atas 12 sudah gulung tikar dalam tempo satu tahun.
Langkah-langkah mengetahui tingkat keterbacaan
1.Ambil sebuah tulisan/wacana
Ada yang berbeda di malam tanggal 10 november di Surabaya 2008 di area komplek pemakaman umum Ngagel Surabaya.
Meski jam sudah menunjuk angka 12, suasana yang biasanya sepi sangat berbeda pada saat itu. Beberapa atribut band seperti Slank, Komunitas Rock NO WARS, dan Iwan Fals pun kerap terlihat.
2.Hitunglah jumlah kalimat yang ada pada wacana. = (………)
3.Hitunglah panjang kalimat dengan cara menghitung jumlah kata per kalimat.
Kalimat pertama=(….), kedua=(….), ketiga=(……), keempat=(….), kelima=(….), keenam=(….) dst.
4.Hitung jumlah rata-rata kata per kalimat. Total kata = (…….) = (……)
jml kalimat (…….)
5.Hitung jumlah kata-kata sulit, yaitu kata-kata yang terdiri dari 3 suku kata atau lebih, teapi tidak untuk kata ulang. = (……..)
6.Hitung persentase kata-kata sulit . Jml kata-kata sulit = (…….) = (…….)
Total kata (…….)
7.Jumlahkan poin ke-4 dan ke-6. lalu kalikan dengan 0,4. maka hasilnya disebut Fog Index. (……)+(……)x0,4 = (…………….)
Rentang Fog Index adalah dari 5-17. Fog Index di atas 7 dianggap oleg Gunning sebagai titik rawan. Tulisan (wacana) dengan Fog Index di atas 7 tergolong sulit untuk dibaca dan dipahami maksudnya. Wacana dengan Fog Index di atas 12 sudah gulung tikar dalam tempo satu tahun.
DAFT PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA
Soedarso. 2006. Speed Reading SISTEM MEMBACA CEPAT DAN EFEKTIF. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
Tampubolon. 1987. KEMAMPUAN MEMBACA TEKNIK MEMBACA EFEKTIF dan EFESIEN. Bandung : Angkasa
Novia, windi. KAMUS LENGKAP BAHASA INDONESIA.Surabaya : Kashiko
Surabaya
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1998. KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA. Jakarta : Balai Pustaka
http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/2%20adrean_nababan_uns.pdf
:http://sawali.wordpress.com/2007/07/15/membangun%E2%80%9Cotonomi%E2%80%9D-pembelajaran-sastra/
http://read-herli.blogspot.com/2008/11/keterbacaan-buku-teks-pelajaran.html
elisa.ugm.ac.id/files/Arimi-Sailal/P1K1vgdE/BACA%20CEPAT%20VERSI%20BAHASA%20INDONESiA
http://lib.atmajaya.ac.id/default.aspx?tabID=61&id=47772&src=a
http://suherlicentre.blogspot.com/2008/10/hut-70-tahun-profdryus-rusyana.html
http://www.readabilityformulas.com
http://en.wikipedia.org/wiki/SMOG
Soedarso. 2006. Speed Reading SISTEM MEMBACA CEPAT DAN EFEKTIF. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
Tampubolon. 1987. KEMAMPUAN MEMBACA TEKNIK MEMBACA EFEKTIF dan EFESIEN. Bandung : Angkasa
Novia, windi. KAMUS LENGKAP BAHASA INDONESIA.Surabaya : Kashiko
Surabaya
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1998. KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA. Jakarta : Balai Pustaka
http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/2%20adrean_nababan_uns.pdf
:http://sawali.wordpress.com/2007/07/15/membangun%E2%80%9Cotonomi%E2%80%9D-pembelajaran-sastra/
http://read-herli.blogspot.com/2008/11/keterbacaan-buku-teks-pelajaran.html
elisa.ugm.ac.id/files/Arimi-Sailal/P1K1vgdE/BACA%20CEPAT%20VERSI%20BAHASA%20INDONESiA
http://lib.atmajaya.ac.id/default.aspx?tabID=61&id=47772&src=a
http://suherlicentre.blogspot.com/2008/10/hut-70-tahun-profdryus-rusyana.html
http://www.readabilityformulas.com
http://en.wikipedia.org/wiki/SMOG
Langganan:
Postingan (Atom)